Fokus Pada Penyelesaian Masalah
Written by Waidi on 25 June 2008 – 8:37 am -“Bila Anda fokus pada masalah, yang Anda peroleh adalah berbgai kemungkinan negatif; bila fokus pada penyelesaian masalah, yang Anda peroleh adalah berbagai peluang” (Stepphen Covey)
Pikiran itu energi dan satu sifat dasar dari energi adalah membentuk. Energi membentuk, seperti energi listrik, energi ini tdak terlihat namun dapat dirasakan, dan merupakan sumber untuk membentuk energi lain, yakni dari setrum (arus) listrik dapat menggerakkan mesin atau menjalankan komputer.
Saya katakan bahwa pikiran itu energi, karena pikiran kitalah yang akan menggerakkan aktifitas kita dan bahkan membentuk nasib kita. Apa pun aktifitas Anda hari ini dan bahkan nasib Anda hari ini merupakan hasil dari aktifitas energi pikiran Anda. Pikiran –bekerja sama dengan niat (spirit)– menentukan aktifitas kita hari ini.
Bermanfaat atau tidaknya sebuah energi sangat tergantung pada bagaimana seseorang dapat memanfaatkannya. Energi listrik yang mengalir di rumah kita, kemanfaatannya (untuk bisnis atau sekedar konsumsi rumah tangga) sangat tergantung pada pemiliknya. Listrik tinggalah listrik.
Demikian pula dengan pikiran, mau dimanfaatkan, dikembangkan secara optimal untuk kesuksesan hidup, atau malah diterlantarkan begitu saja hingga bodoh, juga sangat tergantung pada pemiliknya: Anda sendiri. Apabila Anda membiarkan bodoh, pikiran juga tidak pernah protes, malahan pikiran itu akan mengucapkan “terima kasih” karena tidak pusing-pusing. Namun perlu dicatat, pikiran itu sifatnya sama dengan besi: bila besi tidak dimanfaatkan maka akan karatan, pikiran juga demikian akan “karatan” alias bodoh karena pemiliknya membiarkannya saja, tidak mau memanfaatkan melaui belajar.
Pikiran akan berkembang bila ada belajar. Belajar pada dasarnya adalah bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah. Tanpa masalah tidak dapat disebut belajar. Anda masuk sekolah atau masuk kuliah pada dasarnya dilatih untuk menghadapi dan mengatasi masalah, dari masalah kesulitan materi, tugas-tugas kurikuler hingga ujian. Apabila Anda menceburkan diri ke dunia bisnis, sesungguhnya Anda sedang belajar bagaimana mengembangkan otak/pikiran agar lebih cerdas khususnya dalam hal bisnis. Maka jangan heran bila orang-orang bisnis nampak lebih kreatif, lebih punya banyak akal, dari pada mereka yang menjadi pekerja monoton (itu-itu saja). Percayalah bahwa masuk bisnis merupakan salah satu cara mencerdaskan otak/pikiran. Hanya perlu dibedakan di sini. Memang benar bahwa suatu masalah memang dapat menjadi media asah otak atau media pembelajaran. Namun yang penting di sini, apabila sedang menghadapi masalah, jangan larut secara total emosional dengan masalah tersebut. Sebab, apabila hal itu terjadi konsekuensinya adalah energi pikiran akan terkuras habis untuk “meratapi” masalah itu. Contoh, bila hari ini bisnisnya rugi yang berdampak pada kemampuan membayar karyawan, janganlah bersedih hati, meratapi nasib berlama-lama pada akhirnya, menjadi depresi.
Apa jadinya bila Anda depresi? Sumber daya diri Anda terkuras habis untuk mengatasi depresi. Tenaga, pikiran, emosi, dan bahkan orang-orang di sekitar Anda tersedot energinya untuk mengatasinya. Cukupkah sumber daya diri Anda? Bila tidak akan berlanjut pada depresi parah: gila! Bila ini terjadi, semua energi diri mubadzir, semua capaian Anda (prestasi) hilang!
Mengapa bisa terjadi demikian? Ingat sifat dasar energi, tergantung peruntukannya. Ketika Anda sedang fokus pada masalah ; dan masalah tersebut membutuhkan energi (emosi, pikiran dan fisik), maka sesungguhnya Anda sedang menghabiskan energi hanya untuk “memperbesar masalah” yakni: mengambil energi dari diri sendiri untuk hal-hal yang mubadzir (hanyut dengan masalah). Hanyut dengan masalah secara berlebihan membutuhkan energi tanpa batas. Sampai kapan? Kecuali Anda membatasinya yakni tidak hanyut.
Energi Anda akan mengikuti pikiran Anda (energies follow mind). Arah kapal kemana berlayar akan mengikuti nahkodanya. Demikian halnya dengan pikiran, kemana fokus Anda, pikiran mengikutinya. Apabila hari ini fokus Anda pada masalah sampai hanyut maka energi pikiran akan mengikutinya. Saya kira, siapa pun orangnya, apalagi seorang entrepreneur tidak akan menghanyutkan diri dengan masalah yang justru tidak memberdaya diri. Sebaliknya, ambil tindakan yang dapat membedayakan diri, jaga jarak dengan masalah untuk melihat masalah secara objektif tanpa harus ikut hanyut yang dapat menjadikan diri Anda depresi.
Bagaimana caranya agar tidak terhanyut dalam masalah yang menyedihkan? Pertama, putus dan stop arus emosional yang menghanyutkan. Anda harus berani untuk memutuskannya. Sadari bahwa meratapi masalah bukanlah cara menyelesaikan masalah. Apabila masih merasa berat dan sulit untuk memutusnya, coba duduk diam sejenak, rileks dan lepaskan segala ketegangan. Ambil nafas yang dalam, tahan, dan buang nafas sambil mengatakan rileks…! Lakukan beberapa kali sampai benar-benar rileks. Apabila sudah merasa rileks, selanjutnya Anda boleh jalan-jalan kecil di sekeliling rumah, lihat-lihat taman, atau sekedar baca-baca ringan. Anda juga boleh bercanda sejenak dengan anggota keluarga. Menonton tivi juga boleh. Intinya, ambil aktifitas yang menjadikan diri Anda bisa rileks dan bisa memutuskan/menyetop rasa depresi lebih dulu. Pastikan bahwa Anda sekarang sudah lebih baik dari pada sebelumnya, pastikan bahwa Anda sekarang rileks dan siap untuk melakukan aktifitas baru.
Sekarang, dengan modal kondisi pikiran yang sudah rileks, coba tuliskan sejumlah (minimal lima buah) prestasi besar atau kecil. Bila tidak mempunyai prestasi, tuliskan sejumlah peristiwa yang menyenangkan (minimal lima buah). Ketika Anda menuliskan setiap prestasi/peristiwa yang menyenangkan, sambil mengingat dan sambil merasakan seolah-olah prestasi/peristiwa itu hadir kembali, seolah-olah nyata. Selanjutnya, sambil duduk rileks, diam dan pejamkan mata, ingat dan rasakan satu persatu dari setiap prestasi/peristwa yang menyenangkan itu.
Tahapannya, mulailah dari prestasi/persitiwa yang pertama. Rasakan, dengarkan atau lihatlah seolah-olah prastasi tu hadir kembali. Nikmatilah prestasi/peristiwa itu. Bila Anda sudah benar-benar merasakannya, berhentilah sejenak dan simpan pengalaman satu itu dalam hati. Dengan cara yang sama, lakukan untuk pengalaman kedua sampai dengan ke lima. Setelah semua peristiwa itu sudah dialami kembali dan Anda benar-benar merasakannya, langkah berikutnya adalah kumpulkan lima pengalaman (prestasi/peristiwa) ikat lima pengalaman tersebut menjadi satu.
Sekarang Anda asudah merasa lebih berdaya diri, tidak depresi lagi. Apabila kondisi pikiran dan perasaan Anda merasa lebih baik, saatnya pikiran Anda untuk fokus pada penyelesaian masalah tanpa harus ikut hanyut pada masalah. Bila fokus pada masalah, pikiran secara otomatis, cepat atau lambat akan menemukan solusinya. Ingat, pikiran itu energi. Sering-seringlah rileks, pikiran Anda akan dengan sendirinya akan menemukan solusinya. Mungkin pada saat di kamar mandi, saat membaca koran, atau saat memulai takbirratul ikram (Allahu Akbar)
shalat. Selanjutnya apabila sudah menemukan solusinya, gunakan kekuatan lima pengalaman yang tadi sudah diikat, akses lagi dan jadikan satu kekuatan untuk mendukung solusi tersebut. Dengan segenap kekuatan yang Anda miliki, Anda akan mampu menghadapi masalah yang ada.
Ketika Anda fokus pada penyelesaian masalah, pikiran akan mencarikan ”segudang” solusi yang Anda simpan di alam bawah sadar. Sebaliknya, bila Anda fokus pada masalah, dan bahkan hanyut dengan masalah, pikiranbawah sadar akan mencarikan tambahan masalah yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi. Anda adalah nahkoda pikiran Anda sendiri.
Posted in Dasar NLP |



















By Tiwi on Jun 25, 2008 | Reply
Halo pak waidi, thanks materinya kali ini,bener jg pak saat qta fokus pd permasalahan rasanya slruh energi trsedot dan scr fisik ada sj bagian2 dlm tubuh ini mengeluh minta diperhatikan, bila cara rileks itu diganti dg tidur tepatkah?
By Waidi on Jun 25, 2008 | Reply
Dengan tidur boleh, karena tidur merupakan salah satu cara meremajakan sel-sel syaraf otak sekaligus menyerahkan masalah pada pikiran bawah sadar. Hanya saja sebelum tidur berdoa dulu agar menjadi ibadah, dan minta pada pikiran kita bahwa besok bangun tidur akan mendapatkan solusi. Biasanya, kita mendapatkan solusi. Silakan coba!
By wahjuni-bandung on Jun 26, 2008 | Reply
Mas Waidi yang mumpuni,
Artikel yang menarik, karena penyampaian yang ‘membumi’, beberapa ulasan serupa pernah saya baca tapi kali ini saya mendapatkan tip yang ‘pas’ dan praktis apalagi untuk terus dibagikan ke relasi sekitar…Saya jadi teringat artikel Mas Waidi tentang “Hard University” yang sangat inspiratif, terutama untuk menyemangati kerabat muda yang lagi memacu cita-citanya. Maturnuwun dan terus nulis nggih Mas, saya tunggu artikel berikutnya…wassalam
By Hilman on Jun 26, 2008 | Reply
Pak Waidi, saya sangat suka dengan tulisan bapak.
Saya kok melihat ada kesamaaan antara Conscious Mind dengan “Akal” sedangkan SubConscious Mind sama dengan “Hati (Qolbu)”. Apa seperti itu ya..?
Soalnya saya masih ingat salah satu perkataan dari Rasul Muhammad SAW, bahwa, Ada satu bagian dari tubuh kita, dimana jika bagian itu baik maka akan baik pula seluruh tubuh kita, sebaliknya jika bagian itu rusak, maka akan rusak pula tubuh kita, bagian itu adalah Qalbu.
Bukannkah demikian pula dengan SubConscious Mind kita ? Kalo SC kita cenderung negatif, maka tindakan/perilaku bahkan kesahatan tubuh kita juga cenderung negatif?
Saya tunggu jawabannya ya.. Pak Waidi. Terima kasih pak atas tulisan-tulisannya. Semoga bapak selalu mendapatkan Rahmat dari Yang Maha Kuasa. Amie….
By Waidi on Jun 27, 2008 | Reply
Untuk Wahyuni Banhdung, maturnuwun mba.. telah baca2 tulisan saya. Salah satu motif saya menulis adalah mengingatkan kita bersama bahwa setiap manusia dikarunia potensi diri untuk bekal hidup. Potensi ibarat ladang, mau ditanami anggur, korma, dan buah2 segar; atau dibiarkan terlantar? Itu tergantung pada pemiliknya. Jangan terlantarkan “ladang” itu… tidak amanah..
By Waidi on Jun 27, 2008 | Reply
Untuk Hilman, betul bahwa qolbu merupakan bagian besar dari SC. Di dalam SC terdapat dua kecerdasan; EQ dan SQ (qolbu). Qolbu selalu bicara baik dan benar, tapi sayang bila emosi ergandengan dengan ego atau setan, qolbu dikalahkan. NLP sesungguhnya mengembalikan ke jalan lurus, ke jalan yang diinginkan oleh qolbu. Hanya saja, emosi (SQ) sering membelokkannya. Di buku saya The Art of Reengineering Your mind for Success by NLP sekilas saya bahas.
By Dimas on Jun 28, 2008 | Reply
Kita tinggal pilih “fokus pada masalah” ato “Fokus pada Solusi”
Benar gk pak Waidi?
Masaih ingat saya pak? Dimas yg ikut seminar Bpk di Asiatic.
By Waidi on Jun 30, 2008 | Reply
Untuk Dimas, ya tentu saja saya masih ingat dan tidak akan lupa. Anda peserta seminar yang yang aktif bertanya dari Banjarnegara. Salut, masih muda sudah luas wawasannya. Jauh beda dengan teman2 sebaya Anda yang waktunya habis untuk hura2
Sukses selalu