Quick NLP : Metafora untuk Konsep Abstrak
Written by Achmad on 26 May 2008 – 4:05 am -Beginner’s Quick NLP: Metafora untuk Marketing Mix
Menerangkan marketing mix hanya dengan 1 slide? Bisa!
Caranya..
Cari foto projek apartemen yang belum selesai dibangun, scan dan paste ke PowerPoint. Ukuran foto kira-kira 67% dari ukuran slide, letakkan di tengah-tengah.
Tambahkan text PRODUCT, PRICE, PROMOTION dan PLACE di sisi kiri, sisi atas dan sisi kanan foto. Di sisi bawah tambahkan text “urutan bisa bermacam-macam”.
Ketika tiba saatnya harus menerangkan marketing mix, tampilkan slide ini lalu terangkan:
- Marketing Mix terdiri dari 4 komponen .. dst. Product artinya .. s/d PLACE artinya…
- Katakan “Sering orang menyangka harus ada product dulu, baru product itu diberi harga. sesudah itu product & price dipromosikan dst..
- Katakan “Ini kenyataannya.. apartemen ini belum selesai dibangun. Jadi belum ada produk. Tapi harganya sudah dipublikasikan. Bahkan harga itu pula yang jadi komponen promosi. Jadi marketing mix tidak mengikuti urutan tertentu..
- Teknik metafora seperti ini punya 2 keuntungan:
- Dengan menjelaskan langsung ke pembuktian bahwa tidak urutan tertentu, maka dugaan bahwa marketing mix harus urut Product-Price-Promotion-Place sudah gugur dengan sendirinya.
- Dengan memberikan contoh nyata, konsep yang abstrak menjadi lebih VAKOG untuk ditangkap.
Selamat mencoba untuk konsep abstrak yang lain.
Posted in NLP & Penjualan |



















By Krisnawan Putra on May 26, 2008 | Reply
Metode Training “mBingungi” ala NLP
Dari beberapa kali saya ikut sebagai peserta training maupun saat terlibat sebagai Management Trainer-trainer NLP, saya perhatikan ada penggunaan metode-metode “baru” training yang membuat peserta training menjadi “bingung” yang bersifat “tak konvensional” jika dibanding training-training NoN NLP.
Ya, sebagian besar peserta, termasuk saya, akan mengalami proses bingung. Bahkan proses bingung ini sudah terjadi di tahap persiapan pra acara jika Anda sebagai staf training, HRD perusahaan, maupun Anda sebagai EO.
Beberapa ciri metode training with NLP yang akan membuat Anda akan bingung tersebut adalah:
1. Anda akan sulit mendapatkan akses informasi detail rundown acara dari pengajar. Kalaupun ada sifatnya sangat global, bisa jadi hanya per sesi, bahkan benar-benar gak ada jadwalnya.
2. Antar sesi satu dengan sesi lainnya, atau antara satu topik dengan topik lainnya, “seolah” gak nyambung, tak berkaitan, tak bersinggungan secara ’sistematis’.
3. Bahkan tak jarang training sudah berjalan 1-2 hari, Anda masih belum menemukan benang merah atau esensi dari training yang diberikan sang Trainer.
4. Dan kalau Anda lebih detail lagi amati, pilihan kata, pilihan kalimat dari ucapan Trainer, benar-benar merepresentasikan hal yang tak jelas maknanya maupun maksudnya karena akan ditemukan metafora-metafora dll.
5. Trainer NLP ini juga seringkali tak membuat HAND OUT materi. Alat presentasinya juga sangat minim, paling flipchart yang ditempel-tempel atau cukup 2 di depan. LCD atau Laptop jarang digunakan. Namun coba perhatikan juga, di event training NLP seperti ini yang pasti ada adalah BACKSOUND lagu-lagu! Ini selalu ada tak pernah absen di training NLP.
Mengapa metode ‘mBinungi’ ini DIPILIH oleh para Trainer NLP? Bukankah asumsinya sebagai Trainer, mereka tentu sangat paham betul konsep LEARNING DESIGN?
Hmmm… sabar dulu ya…untuk mengetahui alasan-alasan di balik penggunaan metode training bingung ala NLP ini, sekaligus tips agar Anda tak ikut terbawa bungung jika ikut training ala NLP ini, di lain waktu saya akan bagikan kepada Anda.
Semoga berguna dan bermanfaat…
Maaf…tulisan ini tidak mencoba mencounter tulisan Pak Ahmad di atas…cuma saya bingung mau “berbaginya” di kolom mana di portal NLP ini, “di luar” kolom artikel para kontributor NLP, soalnya di shoutbox juga terbatas, he2.
By Achmad Sjahid on May 28, 2008 | Reply
He he, bingung adalah awal kebijaksanaan..
Kalau saya dalam training yang berjudul “with NLP” saya memilih untuk tidak memakai backsound karena backsound adalah salah satu cara, hukumnya sunnah bukan wajib. Membawa peserta menjadi relaks bisa dengan cara menyebar humor&ketawa tiap 15 menit, bisa juga dengan seating arrangement.
Jadi mungkin peserta yang sudah pernah ikut training “with NLP” lalu ikut training saya jadi bingung lagi, lho ini with NLP kok nggak ada backsound?
Bingung adalah awal kebijaksanaan..
Terima kasih Pak Krisnawan, selamat berbagi..
By Handy Yan on Jun 5, 2008 | Reply
hehehe aku ga ngerti yang ini pindah artikel ah…..
By Juniardi on Jun 9, 2008 | Reply
Pak Achmad,
Saya dapat membayangkan metafora yang bapak berikan, dan kedengarannya logis serta masuk akal. Saya rasa hal ini merupakan ide yang bagus untuk membuktikan bahwa marketing mix bisa di buat secara tidak berurutan (”P” mana yang duluan di-set / ter-set), meskipun begitu pak, saya jadi bertanya tanya, apa ini juga maksudnya belajar NLP bisa dengan cara non-sistematis??
By Sjahid on Jun 9, 2008 | Reply
Bp. Juniardi,
Wah, waktu menulis posting itu saya tidak terbayang tentang belajar NLP secara “non-sistematis”. Satu hal yang pasti, dari sejarah NLP kelihatannya baru pada generasi kedua baru muncul ide “sistematis”. Saya sendiri mendekati NLP secara pragmatis, jika itu berguna bagi saya maka saya pakai (sistematis atau tidak, soal berikutnya). Cuma memang, gain yang kita peroleh jika belajar secara “sistematis” bisa lebih besar, karena tidak perlu mengulangi hal-hal tertentu. Jadi, dulu saya belajar dengan baca buku. Saya baca buku yang bisa saya peroleh, dan saya baca bab yang saya tertarik. Lama-kelamaan baru timbul keinginan belajar “sistematis” sehingga memutuskan ikut sertifikasi. Apakah sistematis lebih baik daripada non-sistematis saya percaya kembali kepada well-formed outcome kita.
Bravo, selamat belajar!
By Juniardi on Jun 10, 2008 | Reply
Pak Sjahid,
Terima kasih untuk penjelasaannya. Saya suka membaca buku NLP, salah satu buku yang pertama saya baca adalah Unlimited Power karya Anthony Robbins. Cumannya saya tidak tahu apa buku tersebut sudah dirancang untuk belajar NLP secara sistematis atau tidak. Jika pak Sjahid tidak keberatan, apa ada referensi yang bisa saya baca agar dapat belajar NLP secara sistematis.
Terima kasih
By Sjahid on Jun 10, 2008 | Reply
He he, mirip pak. Saya pertama baca Awakening the Giant Within, juga dari Anthony Robbins. Buku yang menurut saya dirancang “sistematis” adalah NLP Workbook tulisan Connors. Supaya mudah mencarinya, ini kode ISBNnya ISBN-10:0007100035 ISBN-13:978-0007100033
Sekarang kalau sedang merancang suatu pelatihan saya membaca ulang buku ini, baik untuk refresh content-nya maupun untuk memodel cara Connor menjelaskan.
Selamat mencoba..
By Juniardi on Jun 10, 2008 | Reply
wah..
saya download copy ebook dari Idnlp society pak Teddy, belakang ini memang sedang membaca buku Joseph O’connor “NLP Work book”, saya merasa buku ini memang lebih terstruktur ilmu NLP nya dan ada action plan yang di anjurkan.. ternyata map kita sama pak tentang hal ini…
Thanks pak Sjahid..